LIMA HARI DI JOGJA: Antara Sertifikasi, Berkas, dan Begadang



Ada kalanya kita datang ke sebuah kegiatan dengan membayangkan akan banyak belajar, berdiskusi, dan menambah pengalaman. Namun, begitu kegiatan dimulai, ternyata ada satu hal lagi yang harus disiapkan: mental menghadapi tumpukan berkas dan tugas yang seolah tidak ada habisnya. 😄

Itulah sedikit cerita kami dalam mengikuti Sertifikasi Kompetensi Asesor BNSP yang diselenggarakan oleh LSP Keuangan Ekopina di The Rich Jogja, Yogyakarta, pada 13–17 Oktober 2026.

Sebanyak 13 peserta berkumpul dengan tujuan yang sama: belajar dan mempersiapkan diri menjadi asesor kompetensi yang profesional. Kami didampingi dua asesor pelatih, Pak Chadra dan Pak Sujiyanto, yang membimbing kami melewati setiap tahapan kegiatan.

Hari Pertama: Memulai Perjalanan

Hari pertama menjadi awal perjalanan kami. Kami mulai mengenal proses, memahami apa yang harus dikerjakan, dan mempersiapkan diri menghadapi rangkaian tugas yang menanti.


Awalnya mungkin terasa seperti pelatihan pada umumnya. Duduk, mendengarkan materi, mencatat, lalu berdiskusi.


Namun, semakin jauh mengikuti kegiatan, semakin terasa bahwa menjadi asesor bukan sekadar memahami teori. Ada prosedur yang harus dipahami, dokumen yang harus disiapkan, bukti yang harus diperiksa, dan keputusan yang harus dapat dipertanggungjawabkan.


Ternyata, menjadi asesor punya keseruannya sendiri!


Hari Kedua: Berkenalan dengan Map Merah

Memasuki hari kedua, kami mulai berhadapan dengan tugas mengerjakan map merah.

Berkas demi berkas harus dibaca, dipahami, dan diisi dengan cermat. Tidak cukup hanya mengisi kolom yang tersedia. Kami juga harus memastikan setiap bagian sesuai dengan ketentuan dan alur asesmen.

Di sinilah ketelitian mulai benar-benar diuji.

Satu bagian terlewat, satu isian kurang tepat, atau satu dokumen yang belum sesuai bisa berarti pekerjaan harus diperiksa dan diperbaiki kembali.


Map merah pun menjadi teman belajar kami hari itu.


Hari Ketiga: Lanjut dengan Map Kuning

Belum selesai dengan map merah, hari ketiga kami melanjutkan pekerjaan dengan map kuning.

Kalau pada hari sebelumnya kami mulai memahami ritme pengerjaan berkas, kali ini kami semakin menyadari pentingnya konsistensi. Setiap dokumen harus saling berkaitan dan mendukung proses asesmen yang dilakukan.


Sesekali muncul kebingungan. Sesekali pula kami harus kembali memeriksa pekerjaan yang sudah dianggap selesai.


Tapi justru di situlah proses belajar berlangsung. Kami belajar bukan hanya dari penjelasan asesor pelatih, tetapi juga dari kekeliruan yang kami temukan sendiri.


Ternyata, pekerjaan yang terlihat sederhana di atas kertas bisa membutuhkan waktu dan perhatian yang tidak sedikit.


Hari Keempat: Berganti Peran, Berganti Tantangan

Hari keempat semakin menarik. Kami mulai melakukan role-play atau bermain peran sebagai asesor dan asesi.

Di sini, teori mulai dipraktikkan. Ada yang berperan sebagai asesor, ada yang menjadi asesi, dan ada pula yang bertugas sebagai validator untuk memeriksa pekerjaan calon asesor lainnya.


Berganti peran membuat kami melihat proses asesmen dari sudut pandang yang berbeda.


Menjadi asesor berarti harus mampu menggali bukti kompetensi secara tepat. Menjadi asesi memberikan pengalaman bagaimana rasanya menjalani proses asesmen. Sementara menjadi validator menuntut kecermatan untuk memeriksa apakah pekerjaan telah sesuai dengan ketentuan.

Ternyata, setiap peran punya tantangan masing-masing.


Kami tidak cukup hanya bisa mengerjakan tugas sendiri. Kami juga harus mampu menjelaskan, mempraktikkan, memeriksa, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan.


Malam Hari: Tugas Belum Selesai!

Nah, bagian ini mungkin yang paling berkesan.

Ketika kegiatan siang hari berakhir, bukan berarti pekerjaan kami ikut selesai. Malam hari justru menjadi waktu untuk kembali membuka berkas, memeriksa bagian yang masih keliru, dan memperbaiki isian yang belum sesuai.

Ada dokumen yang harus dibetulkan. Ada pekerjaan yang perlu diperiksa ulang. Ada pula latihan yang harus dipersiapkan untuk kegiatan berikutnya.


Kami berlatih menjalankan tiga peran sekaligus: asesor, asesi, dan validator.


Jadi, jangan membayangkan malam di hotel hanya diisi dengan istirahat santai setelah seharian mengikuti pelatihan. Sebagian waktu justru dihabiskan bersama laptop, dokumen, dan berbagai catatan perbaikan.


Kalau sudah begini, waktu terasa berjalan begitu cepat.


Namun, di balik kesibukan itu, ada pengalaman yang berharga. Kami belajar bahwa kompetensi tidak cukup dibuktikan dengan mengetahui apa yang harus dilakukan. Kami juga harus mampu melakukannya sesuai standar.


Belajar dari Proses

Mengikuti sertifikasi ini mengingatkan saya pada satu hal: menjadi kompeten bukan hanya soal tahu, tetapi juga soal mampu melakukan dengan benar.


Seorang asesor memiliki tanggung jawab untuk memastikan proses asesmen berlangsung sesuai standar, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, ketelitian dalam mengisi dokumen, kecermatan memeriksa bukti, dan kedisiplinan mengikuti prosedur bukan sekadar formalitas.


Semuanya merupakan bagian dari profesionalisme.


Terima kasih kepada Pak Chadra dan Pak Sujiyanto atas bimbingannya, serta kepada 12 rekan peserta lainnya yang bersama-sama menjalani proses belajar ini.

Lima hari di Jogja bukan hanya tentang menyelesaikan tugas dan melewati tahapan sertifikasi. Ada pengalaman, kebersamaan, dan pelajaran yang akan dibawa pulang.

Dan malam ini, ketika sebagian berkas masih harus diperbaiki dan latihan masih menanti, satu hal menjadi semakin jelas: perjalanan untuk menjadi kompeten memang membutuhkan kesungguhan.


Belajar itu tidak selalu nyaman. Kadang harus teliti berulang kali, memperbaiki kesalahan, dan mengorbankan waktu istirahat. Namun, justru melalui proses itulah kita bertumbuh.


Hari Kelima di Jogja: Saatnya Membuktikan Diri

       The Rich Jogya, 17 Oktober 2026

Sabtu, 17 Oktober 2026, menjadi hari penentu.

Setelah empat hari belajar, berkutat dengan berkas, memperbaiki dokumen, berlatih menjadi asesor, asesi, dan validator, akhirnya tiba juga saatnya menghadapi uji sertifikasi kompetensi asesor bersama master asesor.

Pagi itu, ada suasana yang sedikit berbeda.

Jas lengkap sudah dikenakan. Penampilan harus rapi, persiapan harus matang, dan tentu saja mental harus siap. Tepat pukul 08.00, kami sudah berada di ruangan yang telah disiapkan panitia.

Daftar hadir sudah tersedia. Ruangan sudah ditata. Semua tampak siap menyambut proses asesmen hari itu.

Tinggal satu hal yang belum pasti: bagaimana hasilnya nanti?


Kami mendengarkan arahan mengenai teknis pelaksanaan dan menunggu giliran masing-masing. Satu per satu peserta akan dipanggil untuk menghadap master asesor dengan membawa empat map yang menjadi bagian penting dalam proses sertifikasi: merah, kuning, hijau, dan biru.


Empat map itu bukan sekadar kumpulan dokumen. Di dalamnya ada hasil pekerjaan, latihan, perbaikan, dan proses belajar selama beberapa hari terakhir.


Rasanya seperti membawa rangkuman perjalanan belajar untuk dipertanggungjawabkan.


Saat Giliran Itu Tiba

Waktu terus berjalan. Satu per satu peserta mendapat giliran.

Sampai akhirnya, giliran saya tiba.

Saya membawa empat map tersebut dan bersiap menghadapi pertanyaan demi pertanyaan dari master asesor. Pertanyaannya beragam, menguji pemahaman, ketepatan prosedur, dan kesiapan kami dalam menjalankan tugas sebagai asesor kompetensi.

Saya berusaha tetap tenang. Mendengarkan setiap pertanyaan dengan saksama, memahami maksudnya, lalu menjawab sesuai dengan apa yang saya pahami dan pelajari selama pelatihan.

Tentu saja, ada ketegangan. Bagaimanapun, ini adalah momen untuk membuktikan bahwa apa yang dipelajari selama lima hari bukan sekadar teori atau pekerjaan mengisi formulir.

Namun, saya berusaha menikmati prosesnya. Saya percaya bahwa persiapan, latihan, dan kesungguhan selama mengikuti kegiatan adalah bekal terbaik untuk menghadapi ujian ini.Setelah sesi selesai, saya kembali menunggu hasilnya.

Sore Hari yang Melegakan

Hari itu terasa cukup panjang. Setelah semua tahapan dilalui, sore harinya hasil disampaikan.


Puji Tuhan, kami direkomendasikan kompeten.

Ada rasa lega sekaligus syukur. Perjuangan selama lima hari akhirnya membuahkan hasil yang menggembirakan.

Terbayang kembali hari-hari sebelumnya: mempelajari materi, mengerjakan map merah dan kuning, melakukan role-play, memeriksa pekerjaan calon asesor lain, hingga malam hari yang masih diisi dengan memperbaiki berkas dan berlatih.

Ternyata, semua proses itu saling berkaitan. Apa yang terasa melelahkan saat dikerjakan menjadi bekal ketika harus menjawab pertanyaan dan menunjukkan kemampuan di hadapan master asesor.

Tentu, rekomendasi kompeten ini bukan berarti perjalanan belajar telah selesai. Justru ini menjadi awal dari tanggung jawab baru untuk menjalankan tugas asesor secara profesional, objektif, dan sesuai standar.

Sebab, menjadi asesor bukan hanya tentang memiliki sertifikat. Ada tanggung jawab untuk memastikan bahwa kompetensi seseorang dinilai berdasarkan bukti yang valid, dapat dipercaya, dan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.

Lima Hari yang Memberi Arti

Jika ditarik ke belakang, lima hari di Jogja memberikan lebih dari sekadar pengalaman mengikuti sertifikasi.

Saya belajar bahwa kompetensi membutuhkan pengetahuan, keterampilan, ketelitian, dan sikap profesional. Saya juga belajar bahwa kesalahan bukan sesuatu yang harus ditakuti, selama kita mau mengakuinya, memperbaikinya, dan belajar darinya.

Terima kasih kepada LSP Keuangan Ekopina yang telah menyelenggarakan kegiatan ini, kepada Pak Chadra dan Pak Sujiyanto yang mendampingi proses belajar kami, kepada master asesor yang menguji kompetensi kami, serta kepada seluruh rekan peserta yang berjuang bersama selama lima hari.


Jogja kali ini bukan sekadar tempat mengikuti pelatihan. Ada pelajaran, pengalaman, dan cerita yang akan selalu saya ingat.


Dan satu hal yang semakin saya yakini:

Semakin banyak belajar, semakin kita menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari.

Sertifikasi boleh selesai. Namun, belajar dan bertumbuh tidak boleh berhenti.


Salam belajar dari Jogja!

The Rich Jogja, 17 Oktober 2026. (JBA)


Posting Komentar

0 Komentar