Mengingat Guru Bahasa Inggris Favorit Kami

Teruntuk : Alumnus  SMP Timonong Nyarumkop 91-94


Ada satu kenangan yang sampai sekarang kalau diingat masih membuat saya tersenyum sendiri. Kenangan itu terjadi ketika saya masih duduk di SMP Timonong Nyarumkop 91-94.

Dulu, guru Bahasa Inggris kami punya cara yang cukup “tegas” dalam mendidik. Kalau ada yang tidak mengerjakan PR, hukumannya sederhana, tetapi cukup membuat hati bergetar: berlutut di lorong kelas! Teman satu Angkatan saya pasti tahu siapa guru yang dimaksud, 5 september 2026 yang lalu kami juga Kembali mengingatnya bersama dalam pertemuan 110 tahun alumni di PKN.

Hehehe… kalau dipikir-pikir sekarang, lumayan juga ya. 

Saat itu tentu rasanya malu, apalagi kalau teman-teman melihat. Berdiri saja sudah salah tingkah, apalagi harus berlutut di lorong kelas. Tetapi justru dari rasa malu itulah ada pelajaran yang tertanam kuat: besok jangan sampai lupa mengerjakan PR lagi!

Hukuman itu mungkin sederhana, bahkan kalau dilihat dari zaman sekarang bisa terasa berbeda. Tetapi bagi kami waktu itu, hukuman tersebut menjadi bagian dari proses belajar. Ada konsekuensi dari sebuah tanggung jawab yang tidak kita jalankan.

Yang lebih menarik lagi, kalau satu kelas ribut, bukan hanya satu atau dua orang yang dihukum. Satu kelas bisa mendapatkan hukuman yang sama!

Nah, di sinilah saya mulai memahami satu kata yang sekarang semakin terasa maknanya: solidaritas. 

Kalau satu orang membuat masalah, yang lain ikut merasakan akibatnya. Jadi kami belajar bukan hanya tentang Bahasa Inggris, tetapi juga tentang kebersamaan: bagaimana menjaga kelas, saling mengingatkan, dan tidak membiarkan satu teman membuat seluruh kelas terkena hukuman.

Dulu mungkin kami menganggapnya sebagai hukuman.

Sekarang, setelah sekian puluh tahun berlalu, saya melihatnya sebagai bagian kecil dari pendidikan karakter yang kami alami.

Guru tidak hanya mengajarkan grammar, vocabulary, atau cara berbicara dalam Bahasa Inggris. Mereka juga mengajarkan tentang disiplin, tanggung jawab, konsekuensi, kebersamaan, dan solidaritas.

Dan ternyata, pelajaran-pelajaran seperti itulah yang justru sering bertahan paling lama dalam ingatan.

Terima kasih untuk guru-guru kami di SMP Timonong Nyarumkop. Mungkin kami tidak lagi ingat semua materi pelajaran yang pernah diajarkan, tetapi kami masih ingat lorong kelas itu… tempat kami pernah berlutut karena lupa mengerjakan PR. 

Ah… masa sekolah memang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah menjadi cerita yang semakin indah ketika dikenang.

He he… dan soal solidaritas satu kelas itu, rasanya memang benar: “Kalau satu ribut, semua ikut merasakan.” 


Posting Komentar

0 Komentar