Sore itu, asap pekat masih menyelimuti Kota Pontianak.
Di teras Harris Hotel Pontianak, kami berjanji untuk bertemu. Pertemuan yang awalnya sederhana, secangkir kopi dan sebuah obrolan, ternyata membawa kami kembali pada banyak cerita—tentang masa lalu, tentang alumni, dan tentang perjalanan hidup.
Sebelumnya, komunikasi memang sudah berlangsung di grup panitia alumni dan kemudian berlanjut di grup yang baru kami bentuk: Grup Ikatan Alumni Persekolahan Katolik Nyarumkop (IKAPKN).
Beliau adalah senior saya ketika di PKN. Jauh di atas saya. ada adiknya satu tahun di atas saya yng juga alumni.Satu hal yang langsung saya sadari sore itu saaat lihat hasil foto: wajahnya nyaris tidak berubah. Tetap awet muda.
Kopi pun dipesan.....(kami pesan es kopi susu saat itu)
Lalu cerita mengalir...
Tujuan pertemuan kami sore itu membicarakan rencana pembubaran kepanitiaan alumni, rencana rapat perdana IKAPKN, masa depan IKAPKN, sampai akhirnya percakapan membawa kami kembali ke sebuah cerita lama yang ternyata baru kami sadari memiliki benang merah.
Ternyata, kami pernah berkolaborasi jauh sebelum pertemuan sore itu.
Saat itu beliau masih menjadi dosen di STMIK. Sementara saya baru saja tamat kuliah dan sedang mencari-cari pekerjaan.
Saya pernah memasukkan lamaran untuk menjadi dosen di STMIK. Beliau kemudian meminta saya membuat modul atau bahan ajar.
Saya pun mengerjakannya.
Saya menyiapkan bahan RPL – Rekayasa Perangkat Lunak. Modul selesai, bahan ajar sudah siap, bahkan sudah siap saya antar.
Seminggu kemudian...
Telepon Jadul 3315 pun berbunyi.
Saya diminta masuk.
Namun, pada saat yang hampir bersamaan, pimpinan CUPK saat itu, Yosef Cupertino, meminta saya untuk berangkat ke kantor cabang/tempat pelayanan yang baru—dan saat itu saya harus menjalankannya sendirian.
Di situlah saya harus memilih.
STMIK atau CU Pancur Kasih.
Dan saya memilih jalan yang akhirnya membawa saya sampai hari ini.
ya...Begitulah hidup.
Kadang sebuah pilihan yang kita ambil ketika masih muda terasa seperti keputusan sederhana. Tetapi puluhan tahun kemudian, kita baru menyadari bahwa pilihan-pilihan kecil itulah yang membawa kita ke tempat kita berdiri sekarang.
Sore itu kami bukan hanya membicarakan masa depan alumni.
Kami seperti sedang membuka kembali halaman lama kehidupan.
Dua orang yang pernah berada dalam satu fase kehidupan, kemudian mengambil jalan masing-masing, dan bertahun-tahun kemudian dipertemukan kembali dalam sebuah cerita yang sama sekali berbeda.
Hari ini, beliau telah menjadi salah satu orang penting di salah satu Kabupaten di KALBAR, mengemban amanah sebagai Sekretaris Daerah.
Saya pun melihat pertemuan sore itu bukan sekadar pertemuan antara junior dan senior.
Ini adalah perjumpaan dua alumni yang sama-sama sedang melihat kembali perjalanan panjang yang pernah dilalui.
Salam hormat, Senior. 🙏
JBA , Pontianak,(18/09/2026)

0 Komentar